Aku ada karena keberadaan kamu. Aku tidak disebut manusia jika aku hidup tanpa kamu, dan kamu semuanya. Bahkan Tuhan menciptakan manusia pertama dengan pendampingnya. Ini berarti manusia butuh manusia lain juga. Begitu juga dengan aku, yang membutuhkan kamu. Ya, sekali lagi aku berteriak bahwa aku butuh kamu. Aku berharap kamu peduli denganku.
Tuhan menakdirkan setiap manusia berbeda-beda. Takdir Tuhan yang paling membahagiakan mungkin adalah keberadaan Ayah dan Ibu yang begitu menyayangi kamu. Bagaimana tidak, kedua mahluk ciptaan Tuhan tersebut selalu menemani dari pertama kali kamu hadir di dunia hingga saat ini. Bagaimana tidak kedua mahluk ciptaan Tuhan tersebut selalu ada di saat kamu membutuhkan bantuan. Bagaimana tidak kedua mahluk ciptaan Tuhan tersebut selalu sabar merawatmu hingga saat ini. Bagaimana tidak darah ibu yang telah kamu hisap lah yang membuat kamu sehat seperti ini. Bagaimana tidak kerja keras ayah lah yang telah membuat hidupmu seindah sekarang. Ya, masih banyak lagi bukti bahwa Tuhan telah memberikan kepadamu sepasang malaikat, ayah dan ibu yang begitu menyanyangimu.
Itu adalah Kamu. Berbeda denganku.
Seperti yang telah kusebut sebelumnya Tuhan menakdirkan setiap manusia berbeda-beda. Mungkin bagimu Takdir Tuhan yang paling membahagiakan adalah ayah dan ibu, namun bagiku Takdir Tuhan yang paling membahagiakan adalah bahwa Kamu peduli dengan Aku, karena aku tidak lagi mempunyai ayah ibu untuk menemani gelap hariku. Ya, Aku memang sangat rindu belaian kasih ibu dimalam hari sebelum tidurku, aku rindu tangan kuat ayah yang mengendongku selalu, aku rindu ayah ibu, sungguh begitu rindu. Namun Tuhan tahu bahwa hidupku juga ada kamu, oleh karena itu aku menerima keputusan Tuhan untuk berpisah dengan ayah dan ibu.
Aku menangis, bukan karena kepergiaan ayah dan ibu, tetapi karena keberadaan kamu tidak begitu berarti bagiku. Setiap hari aku hanya mampu melihat kamu, tanpa pernah merasakan cintamu dan kepedulianmu. Setiap hari aku melihat kesibukanmu di Kampus dan mungkin kamu juga melihat kesibukanku di Kampus. Namun kita berbeda, kamu sibuk mengumpulkan puzzle untuk kesuksesan masa depan melalui kuliah, sedangkan aku sibuk mengumpulkan tenaga untuk hidup dihari ini. Hanya di hari ini, sebab tidak tahu bagaimana esok. Kamu bingung ya soal makan?, sama aku juga bingung. Namun bingung kita beda, kamu bingung mau makan apa dan aku bingung bisa makan atau tidak.
Tuhan. Tolong berikan aku kekuatan untuk bertahan dan keberhasilan keluar dari kesendirian. Aku hanya tidak ingin seperti dia, yang tahu kesendirianku yang sungguh sepi tapi dihiraukan. Aku ingin seperti utusanMu, yang peduli dengan kesendirianku, yang mau mengusap kepalaku dengan penuh cinta kasih, yang selalu dekat denganku. UtusanMu sama denganku Tuhan. Kami sama-sama tidak dibesarkan dengan kedua malaikat yang mereka punya. Namun utusanMu tetap hebat dan begitu terpuji, sesuai dengan namanya. UtusanMu selalu berhenti makan sebelum kenyang dan aku…aku memang tidak pernah kenyang. Sedangkan mereka, mereka berhenti makan sesudah kenyang. UtusanMu walau sulit selalu mau membantu orang sepertiku dan aku…aku setiap hari dalam kesulitan. Sedangkan mereka walau senang lupa membantu orang sepertiku yang hidup kesulitan.
Tuhan kasihilah ayah dan ibuku disana. Sejahterahkanlah dengan nikmatMu. Lapangkanlah alam kuburnya. Terangilah dengan CahayaMu
Dan Tuhan, gerakanlah hati mereka yang masih memiliki ayah dan ibu, yang masih merasakan betapa nikmatnya cinta ayah dan ibu, yang masih bisa menatap guratan-guratan indah wajah ayah dan ibu, yang masih bisa mendengarkan nasihat dan ucapan ayah dan ibu. Gerakan hati mereka untuk peduli terhadap orang sepertiku.
Namun Tuhan. Jangan hukum mereka jika mereka lupa padaku. Tetap berikanlah yang terbaik untuk mereka. Selamatkanlah mereka dan jadikanlah mereka anak yang mampu dibanggakan oleh kedua orangtuanya.